Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

(JANGAN) Berhenti

jangan-berhenti-menyerah


PENDAHULUAN

Pernahkah saudara merasa ingin berhenti?  Ingin menyerah?

 

Misalnya:

·       berhenti bekerja

·       Berhenti melayani

·       berhenti berolahraga

·       Berhenti diet?

 

(lebih serius)

·       berhenti sebagai pasangan  = bercerai ? (*orangtua)

·       berhenti datang ke gereja?

 

 

Bisakah Anda menyebutkan nama orang-orang yang Anda tahu telah berhenti? Mungkin banyak!

 

Bukan sedekar berhenti mengikuti les piano atau berhenti olahraga rutin.

 

Kita semua bisa memikirkan orang-orang yang telah berhenti mengejar impian, berhenti diet, berhenti kuliah, atau tidak lagi mau mengejar karier.

 

Ada orang-orang yang menyerah dalam pernikahan, menyerah dalam hubungan dengan Tuhan, dan lain sebagainya.

 

 

 

Saat kita memulai sesuatu, saya rasa tidak ada seorang pun diantara yang memulai sesuatu lalu memang punya niat untuk gagal dari awal.  Betul?

 

Tidak ada pasangan menikah sambil berkata,
"Nanti lima tahun lagi kita cerai ya."

 

Tidak ada orang yang mulai diet sambil berkata,
"Minggu depan aku menyerah."

 

 

 

KALIMAT PERALIHAN

Semua orang memulai sesuatu dengan semangat.  Betul?

Tetapi lalu mengapa banyak orang berhenti ditengah jalan?

 

Dan mengapa khotbah ini berjudul (JANGAN) Berhenti?

 

Ibrani 12:1-2

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.  Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

 

The Message Bible:

Lihatlah begitu banyak orang yang telah membuka jalan di depan kita—para pelopor iman, para saksi yang kini seakan-akan bersorak memberi semangat kepada kita. Karena itu, sekarang giliran kita. Jangan tunda lagi! Singkirkan semua yang membebani hidupmu. Lepaskan dosa-dosa yang menempel dan menguras kekuatanmu. Mulailah berlari—dan jangan pernah berhenti!

 

Jangan biarkan ada "lemak rohani" yang tidak perlu, dan jangan pelihara dosa yang menggerogoti hidupmu. Arahkan pandanganmu hanya kepada Yesus. Dialah yang memulai perjalanan iman ini, dan Dialah juga yang menyempurnakannya sampai garis akhir.

 

Perhatikan bagaimana Dia menjalaninya. Dia tidak pernah kehilangan pandangan akan tujuan akhir yang menanti-Nya—sukacita yang luar biasa karena akan menyelesaikan karya-Nya bersama Allah dan kembali kepada Allah. Karena itulah, Dia sanggup menanggung apa pun di sepanjang jalan: salib, penghinaan, penderitaan, apa saja.

 

Dan sekarang Dia telah duduk di tempat yang paling mulia, di sebelah kanan Allah, menerima segala hormat dan kemuliaan.

 

 

ISI

Ketika saya membaca Ibrani 12:1-2, saya menyadari bahwa firman Tuhan ini bukan sekadar ajakan untuk "terus semangat".   

 

Penulis Ibrani sedang menunjukkan kepada kita mengapa begitu banyak orang berhenti di tengah perjalanan.

 

Saya seringkali menemukan bahwa sesungguhnya masalah terbesar kita saat mengerjakan sesuatu, bukanlah soal memulai. Hampir semua orang bisa memulai dengan semangat.   Masalahnya adalah bagaimana kita tetap berjalan sampai garis akhir.

 

 

Dari Ibrani 12 ini, saya ingin mengajak kita melihat ada tiga alasan mengapa orang sering berhenti di tengah jalan, dan tiga kebenaran yang menolong kita untuk terus bertahan.

 

Yang pertama adalah

#1 Jangan Berhenti karena Lupa "Mengapa" Kita Memulai

“Arahkan pandanganmu hanya kepada Yesus”

 

Mari kita bicara tentang resolusi Tahun Baru.

 

Ada sebuah penelitian terhadap 800 juta orang Amerika menemukan bahwa resolusi Tahun Baru rata-rata hilang pada tanggal 19 Januari. 

 

Alasannya? Resolusi mereka adalah hasil dari keinginan, bukan pengabdian.

Sebuah keinginan mungkin terasa kuat, tetapi biasanya dangkal dan cepat berlalu.

 

 

Mengapa saya katakan sebagian besar resolusi Tahun Baru adalah hasil dari keinginan, bukan pengabdian? 

 

Karena resolusi tahun baru dimulai pada tahun baru.  Pikirkan itu.  Anda menunggu hingga tanggal 1 Januari.

 

Ada momen di mana Anda berpikir, "Aku harus menurunkan berat badan 10 kg," atau "Aku ingin berhenti merokok," atau "Aku harus mulai berolahraga," atau "Mungkin ini saatnya memelihara tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi." 

 

Lalu kemudian anda memutuskan untuk melakukannya pada 1 Januari.

 

Hari di mana Anda merasakan keinginan tersebut mungkin terjadi pada tanggal 29 September atau 4 November, tetapi Anda menunda mewujudkannya hingga tanggal 1 Januari.

 

Mengapa Anda menunggu? Karena Anda tidak memiliki "mengapa" yang cukup kuat.

 

Mengapa resolusi Anda gagal? Karena “Mengapa” Anda tidak cukup jelas.

 

Jika Anda memiliki "mengapa" yang benar, Anda tidak akan menunggu hingga 1 Januari. Benar?

 

Jika seseorang misalnya di bulan agustus, tiba-tiba sesak nafas, dan pingsan kemudian masuk IGD.   Lalu dokter memberitahu Anda bahwa Anda menderita diabetes parah dan harus berhenti makan gula atau Anda akan mati!

 

Orang itu tidak akan berkata, "Baiklah, saya akan makan es krim setiap hari untuk 4 bulan ke depan! Lalu aku akan berhenti saat tahun baru."  

 

Tidak kan?  Dia pasti akan langsung mau berhenti makan gula hari itu juga.  

 

Sampai kapan?  Sampai sudah keluar RS, lalu sudah merasa segar kembali.   Lalu?

= Lupa pernah pingsan, lupa pernah masuk RS.  Lalu mulai lagi makan yang manis-manis.

 

Mengapa itu terjadi?

 

Sering kali kita tidak berhenti karena merasa kita tidak mampu. Kita berhenti karena kita lupa “mengapa” kita memulainya.

 

 

Saya percaya setiap kita, terlebih karena kita anak Tuhan, seorang percaya, pasti memiliki keinginan untuk menjadi orang yang lebih baik dari waktu ke waktu.

 

Kita mungkin ingin lebih dekat dengan Tuhan, ingin memiliki pernikahan yang lebih baik, ingin menghentikan kebiasaan buruk, memiliki persahabatan yang lebih dekat, atau memiliki stabilitas keuangan yang lebih baik.

 

Bagus. Semuanya hal yang baik.  Tetapi mengapa?

Apa alasan Anda? Anda harus mulai dengan "mengapa."

 

Jika Anda ingin bertumbuh dalam konsistensi, mulailah dengan "mengapa."

 

 

Anda mungkin ingin lebih dekat dengan Tuhan. Mengapa?

Anda mungkin menjawab, "Aku rasa aku harus begitu.  Maksudku, aku orang Kristen.  Dan bukankah itu yang dilakukan orang-orang gereja yang baik?"

 

Tidak, "mengapa" yang itu tidak cukup meyakinkan untuk mempertahankan konsistensi.

 

Anda malah akan muak harus “merasa rohani terus” dengan usaha sendiri, lelah karena terus menyalahkan iblis yang menjauhkan Anda dari Tuhan.

 

Tetapi kalau mengapa Anda benar dan kuat, yaitu saya mau ingin lebih dengan Tuhan;

Karena anda yakin bahwa Tuhan menciptakan Anda sebagai anak-Nya, untuk kemuliaan-Nya, dan bertekad untuk mengasihi dan melayani Dia dengan sepenuh hati!

 

Maka saat mengapanya kuat, Anda tidak akan gampang menyerah dan berhenti di tengah jalan.

 

 

Anda ingin memiliki pernikahan yang lebih baik? Bagus. Tetapi mengapa?

"Karena aku sudah capek bertengkar terus."  Tidak. Itu alasan yang lemah. 

 

Bagaimana dengan "Karena: Aku telah berjanji kepada pasanganku dan kepada Tuhan, dan aku ingin menghormatinya. Aku ingin mewariskan kepada anak-anak dan cucu-cucuku tentang bagaimana rasanya memiliki pernikahan yang berpusat pada Yesus dan diberdayakan oleh iman." Ya!

 

 

Anda memiliki keuangan yang lebih baik.  Bagus.  Tetapi Mengapa?

"Karena aku punya TV berukuran lima puluh lima inch, tapi aku ingin TV berukuran tujuh puluh inci.  Karena aku ingin ada mobil baru yang sedang kuincar."

 

Tidak, itu bukan "mengapa" yang akan memotivasi Anda setelah ledakan energi awal Anda.

 

Apa "mengapa" yang lebih baik?

 

"Karena: Aku tidak mau hidup dari gaji ke gaji lagi.  Aku tidak mau menjalani sisa hidupku khawatir apakah aku bisa membayar semua tagihan.

 

Karena: Aku ingin kebebasan finansial sehingga aku bisa bermurah hati kepada Tuhan dan membuat perbedaan dalam kehidupan orang-orang."

 

 

Ketika kita terus ingat “mengapa” kita, kita tidak akan menjadi orang-orang yang mudah berhenti, mau menyerah di tengah jalan.

 

 

Maka karena itu, dalam hidup kita yang penuh kesulitan, firman Tuhan berkata:

"Arahkan pandanganmu hanya kepada Yesus."

 

Mengapa? Karena selama mata kita tertuju kepada Yesus, kita tidak akan kehilangan "mengapa" kita berlari.

 

 

Firman Tuhan yang tadi kita baca memberikan ilustrasi bahwa dalam hidup kita seperti sedang diikutkan dalam perlombaan lari.

 

Namun:

Kita tidak sedang berlari untuk membuktikan bahwa kita hebat.

Kita tidak sedang berlari supaya dipuji orang.

Kita tidak sedang berlari supaya hidup kita lebih sukses daripada orang lain.

 

Kita sedang berlari karena Yesus telah terlebih dahulu memanggil kita, menyelamatkan kita, dan mempercayakan kepada setiap kita sebuah perlombaan yang harus kita selesaikan.

 

Ibrani 12 berkata bahwa kita sedang "berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita."

 

Perhatikan, firman Tuhan tidak berkata kita memilih perlombaan kita sendiri. Firman Tuhan juga tidak berkata kita berlari di lintasan orang lain.

 

Tuhan mempunyai perlombaan bagi setiap kita.  Berbeda-beda.

 

Ada yang dipanggil menjadi:

·       pasangan yang setia dan menguatkan,

·       ayah atau ibu yang setia bagi anak-anak yang Tuhan karuniakan.

·       pengusaha yang memuliakan Tuhan.

·       melayani di gereja.

·       terang di tempat kerja, di sekolah, di tengah masyarakat.

 

Perlombaannya mungkin berbeda-beda, tetapi garis akhirnya sama: memuliakan Kristus.

 

Karena itu, kalau hari ini Saudara mulai kehilangan semangat, rasa sudah tidak kuat lagi.  Jangan hanya bertanya, "Bagaimana supaya aku kuat?" 

Bertanyalah, "Apakah mataku masih tertuju kepada Yesus?"

 

Sebab ketika pandangan kita bergeser kepada masalah, kita akan mudah putus asa.

Ketika pandangan kita bergeser kepada orang lain, kita akan mudah iri hati.

Ketika pandangan kita bergeser kepada diri sendiri, kita akan mudah menyerah.

 

Tetapi ketika pandangan kita tetap tertuju kepada Yesus, kita akan selalu diingatkan mengapa kita memulai perjalanan ini sejak awal.

 

Selama kita terus memandang Yesus, kita tidak akan lupa mengapa kita hidup. 

 

Yesus hendaknya terus menjadi alasan mengapa kita hidup dan terus melangkah.  Yaitu hidup untuk memuliakan dan menyenangkan Allah.

 

 

 

#2 Jangan Berhenti Walau Belum Bisa Melihat Hasilnya

“Dia tidak pernah kehilangan pandangan akan tujuan akhir yang menanti-Nya.”

 

Saya seringkali juga menemukan bahwa:

Kadang kita ingin berhenti bukan karena kita merasa Tuhan berhenti bekerja.

Tetapi karena kita tidak bisa melihat apa yang sedang Tuhan kerjakan.

 

 

Ilustrasi: Florence Chadwick

Ada seorang perenang wanita bernama Florence Chadwick.  Pada 4 Juli 1952, Ia ingin berenang dari Pulau Catalina menuju pantai California.  Jaraknya cukup jauh, sekitar 34 Km.

 

Ia sudah berenang selama sekitar 16 jam. Dan sayangnya akhirnya dia tidak berhasil melakukannya. 

 

Mengapa dia tidak berhasil?

Bukan karena airnya dingin.   Bukan karena hiu.  Bukan karena rasa lelah.

 

Tetapi karena kabut.  Pada waktu dia sedang berenang, tiba-tiba datang kabut dan akibatnya dia tidak bisa melihat pantai.  Dia tidak bisa melihat tujuan akhirnya.

 

Akhirnya ia menyerah dan naik ke perahu.

 

Ketika dia naik ke perahu mesin setelah enam belas jam berenang, dia baru menyadari bahwa tujuannya hanya berada kurang dari 2 Km dari tempat dia berada.   Dia sudah berenang sejauh 32 km, sisa 2 km lagi untuk mencapai pantai california. 

 

Sayang sekali!   Betapa menyesalnya dan kecewanya dia.

 

Ketika dia kemudian di wawancara, dia mengatakan kepada wartawan bahwa dia pasti akan berhasil jika dia bisa melihat daratan (tujuan akhirnya).

 

Dua bulan kemudian dia mencoba lagi.   Dan Sekali lagi, kabut muncul, tetapi kali ini dia berhasil sampai ke tujuan. Mengapa?

 

Dia mengatakan bahwa dia sudah menduga akan ada kabut dan sepanjang waktu dia berenang, dia terus percaya bahwa pantai ada di depan

 

 

Begitulah iman seringkali bekerja.

 

Kadang kita tidak melihat hasil doa.

Tidak melihat perubahan pasangan.

Tidak melihat perubahan anak.

Tidak melihat pertumbuhan pelayanan.

Tidak melihat perkembangan usaha.

Tidak melihat kesembuhan.

 

Yang kita lihat hanya kabut.

Kabut kekecewaan.

Kabut penantian.

Kabut ketidakpastian.

 

Kabut yang membuat kita mulai bertanya,

"Tuhan, Engkau sedang bekerja atau tidak?"

= Dan di saat seperti itulah kita paling tergoda untuk berhenti.

 

 

Tetapi perhatikan apa yang dikatakan firman Tuhan tentang Yesus:

"Dia tidak pernah kehilangan pandangan akan tujuan akhir yang menanti-Nya."

 

Yesus juga pernah melewati "kabut".

Di taman Getsemani, Dia belum melihat kebangkitan.

Di jalan menuju Golgota, Dia belum melihat kemenangan.

Di atas kayu salib, murid-murid melihat kekalahan.

 

Nmun Yesus tidak pernah kehilangan pandangan kepada sukacita yang menanti di seberang salib.  Dia melihat tujuan akhir yang telah Bapa tetapkan.

 

Karena itu Dia tetap melangkah.  Dia tetap memikul salib.  Dia tetap taat sampai akhir.

 

Mari kita tanamkan kebenaran ini:

Iman bukan berarti kita selalu bisa melihat hasilnya.  Iman berarti kita tetap berjalan meskipun hasilnya belum terlihat.

 

Sering kali kita berkata,

"Tuhan, tunjukkan hasilnya dulu, baru saya percaya."

 

Tetapi Tuhan berkata,

"Percayalah kepada-Ku dulu, maka engkau akan melihat apa yang sedang Aku kerjakan."

 

Bukankah itu yang terjadi pada Abraham?

Ia meninggalkan negerinya tanpa tahu ke mana ia akan pergi.

 

Bukankah itu yang terjadi pada Nuh?

Ia membangun bahtera sebelum ada hujan.

 

Bukankah itu yang terjadi pada Yusuf?

Bertahun-tahun hidup sebagai budak dan narapidana, tetapi janji Tuhan tidak pernah gagal.

 

Begitu juga dengan kita.  Amin?

 

 

Mungkin hari ini Saudara belum melihat hasil dari doa-doa Saudara.

Belum melihat buah dari kesetiaan Saudara.

Belum melihat perubahan yang Saudara harapkan.

 

Tetapi jangan berhenti.  Jangan menyerah.

 

Jangan biarkan "kabut" membuat Saudara lupa bahwa Tuhan tetap bekerja meskipun kita belum bisa melihat hasilnya.  Terus pandang kepada Yesus!

 

Sebab Tuhan tidak pernah berhenti bekerja! 

Mungkin mata kita belum melihat.  Tetapi tangan Tuhan sedang bekerja.

 

Maka: Mari kita terus melangkah.  Teruslah berdoa.  Teruslah setia.  Teruslah percaya. 

 

Dan kembali ke point 1, Terus memandang kepada Yesus.

 

Dan kemudian:

#3 Jangan Berhenti Karena Jalannya Sulit

Mengapa orang berhenti?  Jawaban paling jujurnya seringkali adalah karena...  Memang sulit.

 

Apa sih yang tidak sulit? 

 

Jika saudara ingin bertumbuh atau berkembang?  Pasti sulit!

Jika saudara mau belajar hal baru?  Sulit!

Jika saudara mau memperbaiki hubungan?  sulit!

 

Dan godaan selalu ada untuk mempersulit hidup kita!

 

Jika kita contohnya memutuskan untuk:

·       menurunkan berat badan? Instagram setiap hari memberitahu promo makanan enak dan restoran terbaru;  Apa kita uninstall saja instagram?

·       keluar dari hutang dan hidup hemat, yang terjadi mobil Anda rusak dan anda tidak akan punya cukup uang untuk perbaikan;

·       berhenti marah-marah, anak Anda yang biasanya kalem tiba-tiba ngajak berantem.

 

Ketika itu terjadi, jangan terkejut.  Memang selalu sulit.    Yesus sendiri mengatakan bahwa hidup di dunia itu akan sulit: "Dalam dunia kamu menderita penganiayaan" (Yohanes 16:33).

 

Mari kita jujur saja!

Bekerja itu ? sulit!

Sekolah/kuliah ?  Sulit.

Pelayanan? sulit.

Mendidik anak? sulit.

Mengampuni? sulit.

Menjaga kekudusan? sulit.

 

Maka jalan yang sulit bukan berarti kita salah jalan!  Dan sulit seharusnya bukan alasan untuk berhenti. 

 

 

Jadi apa yang harus kita lakukan? Ibrani 12:1-2 (MSG)

Jangan biarkan ada "lemak rohani" yang tidak perlu, dan jangan pelihara dosa yang menggerogoti hidupmu. Arahkan pandanganmu hanya kepada Yesus. Dialah yang memulai perjalanan iman ini, dan Dialah juga yang menyempurnakannya sampai garis akhir.

 

Perhatikan, sebelum penulis Ibrani berkata, "Teruslah berlari," dia lebih dahulu berkata, "Buanglah apa yang menghambatmu."

 

Yang pertama, jangan biarkan ada "lemak rohani".

 

Apa itu lemak rohani?  Lemak rohani bukan dosa.  Tetapi sesuatu yang sebenarnya tidak jahat, namun membuat hidup rohani kita menjadi berat.  Dalam alkitab Indonesia terjemahan baru, mengartikannya sebagai “beban”.

 

Sama seperti seorang pelari.

Pelari tentu saja tidak membawa koper.

Pelari tidak memakai jaket tebal.

Pelari tidak membawa tas ransel.

 

Mengapa?  Karena sedikit saja beban tambahan akan memperlambat langkahnya.

 

Begitu juga dengan kita.

Ada hal-hal yang mungkin bukan dosa, tetapi mulai mengambil terlalu banyak tempat dalam hidup kita.

 

Mungkin terlalu banyak hiburan.

Terlalu banyak media sosial.

Terlalu banyak menonton sampai lupa berdoa.

Terlalu sibuk mencari uang sampai tidak pernah punya waktu untuk keluarga.

Terlalu sibuk bekerja sampai tidak pernah lagi melayani Tuhan.

 

Apakah semuanya itu dosa? Belum tentu.

Tetapi kalau semua itu membuat kita semakin jauh dari Tuhan, itu sudah menjadi lemak rohani.  Dan lemak rohani selalu membuat kita lebih cepat lelah dalam perlombaan iman.

 

Lalu yang kedua.  "Jangan pelihara dosa yang menggerogoti hidupmu."

 

Firman Tuhan tidak berkata, "Jangan lakukan dosa."

Tetapi, "Jangan pelihara dosa."

 

Ada bedanya. 

 

Kadang kita jatuh.  Tetapi masalahnya bukan kita jatuh.

Masalahnya adalah ketika kita mulai nyaman tinggal di dalam dosa.

Kita tahu itu salah. Tetapi kita berkata,

"Ah... cuma sekali."

"Semua orang juga begitu."

"Tuhan pasti mengerti."

 

Lalu dosa itu kita pelihara. 

Sedikit demi sedikit. Tanpa sadar dosa itu menggerogoti hati kita.

 

Menggerogoti sukacita kita.

Menggerogoti damai sejahtera kita.

Menggerogoti hubungan kita dengan Tuhan.

 

Tidak heran akhirnya kita kehilangan kekuatan, sukacita, dan kehabisan damai sejahtera.

 

Bukan karena Tuhan meninggalkan kita.

Tetapi karena kita sedang memelihara sesuatu yang terus melemahkan hidup rohani kita.

 

 

Lalu akhirnya firman Tuhan berkata, "Arahkan pandanganmu hanya kepada Yesus."

 

Karena hanya Yesus yang selalu menemani kita 24 jam penuh, orang lain tidak bisa.

 

Hanya Yesus yang mampu memberi kita kekuatan untuk terus bertahan, dan bahkan membuat kita mampu menang dari berbagai pergumulan.


Jadi berhenti melihat diri kita sendiri, berhenti melihat orang lain, pertolongan lain.  Sebab kalau kita melihat itu semua, kita memang tidak akan bisa berhenti melihat semua kesulitan dan kekecewaan yang membuat kita ingin menyerah dan berhenti.

 

Mari kita mengalihkan pandangan kita, hanya kepada Yesus saja! 

Karena hanya Yesus, Dialah yang memulai perjalanan iman ini, dan Dialah juga yang menyempurnakannya sampai garis akhir.

 

Amin?

 

PENUTUP

Lalu mengapa saya memberi judul khotbah ini “(Jangan) Berhenti”?

 

Karena sebenarnya ada dua hal penting soal “Berhenti”!

 

Ada berhenti yang harus dilakukan.

·       Berhenti mencari alasan.

·       Berhenti hidup dalam dosa.

·       Berhenti menunda panggilan Tuhan.

·       Berhenti mengasihani diri sendiri.

 

Tetapi ada satu hal yang jangan pernah kita hentikan.

·       Jangan berhenti mengikut Yesus.

·       Jangan berhenti percaya.

·       Jangan berhenti berdoa.

·       Jangan berhenti berbuat baik.

·       Jangan berhenti berlari sampai garis akhirnya.

 

Karena pada akhirnya, Tuhan tidak mencari orang yang memulai dengan paling spektakuler.  Tuhan sesungguhnya mencari orang yang tetap setia sampai akhir. 

 

Dan percayalah bahwa Tuhan juga selalu setia, memberi pertolongan kepada setiap kita yang mau tetap setiap sampai akhir.

 

--------
*Khotbah ini disusun ulang berdasarkan buku "Think Ahead", karya penulis Craig Groeschel.

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]