Full width home advertisement

Post Page Advertisement [Top]

 Jangan Menjauh dari Bapa

jangan-menjauh-dari-Tuhan


Bayangkan seorang bayi yang sedang berada di hadapan ayah atau ibunya.

Bayi tentu belum mengerti bagaimana harus menjaga penampilannya.

 

Bahkan sering kali telanjang, tetapi tidak malu.

Bisa saja kotor, tetapi tidak dijauhi.

Bisa menangis, tetapi tidak ditinggalkan.

Bisa rewel, tetapi tetap digendong.

Bisa jatuh, tetapi diangkat kembali.

Bisa tidak berdaya, tetapi tetap berada dalam pelukan orang tuanya.

 

Mengapa?

Karena seorang bayi tidak pernah berpikir:

Saya harus terlihat sempurna supaya Papa dan Mama tetap menyayangi saya.

 

Tidak.  Dia datang apa adanya. 

 

Dia tidak menyembunyikan dirinya.

Dia tidak berusaha menjadi orang lain.

Dia merasa aman karena dia tahu: ada orang yang memegangnya.


Ketika dia merasa kotor, bahkan dia memanggil orangtuanya untuk mendekat. 

 

Dan bukankah sering kali justru kita yang sudah dewasa menjadi sebaliknya?

 

Kita datang kepada Tuhan dengan berusaha terlihat baik.

Kita berdoa dengan kata-kata yang baik.

Kita menyanyi dengan suara yang baik.

Kita tersenyum di depan orang lain.

 

Saat kita merasa sedang tidak baik? kita justru merasa malu untuk datang kepada Tuhan.

Maka kita mulai menjauh.

Kita bahkan berhenti membaca Alkitab.

Kita mungkin berhenti berdoa.

Bahkan mungkin kita berhenti melayani.

 

 

Namun tahukah kita bahwa setiap kali kita berkata:
“Tuhan, jangan lihat bagian ini.”

“Tuhan, jangan lihat kelemahan ini.”

“Tuhan, jangan lihat kegagalan ini.”

 

Tuhan berkata: “Aku sudah melihatnya.”

Bahkan sebelum kita mengatakannya, Dia sudah mengetahuinya.

 

Sebab kita tidak pernah sedang memberikan informasi baru kepada Tuhan.  Dia sudah tahu.
Yang Tuhan inginkan adalah kita datang dengan hati yang terbuka dan jujur.

 

 

Kalau kita sedang lelah, katakan: “Tuhan, aku lelah.”

Kalau kita takut, katakan: “Tuhan, aku takut.”

Kalau kita kecewa, katakan: “Tuhan, aku kecewa.”

Kalau kita sedang bergumul dengan dosa: “Tuhan, inilah pergumulanku.”

 

 

Jadi: Karena Tuhan mengenal saya, saya tidak perlu berpura-pura.

Saya boleh datang kepada-Nya dengan jujur.

 

Saya harus datang mendekat, dan bukan malah menjauh!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]