First Things First
(What Number is God?)
Mazmur 90:1-2
Doa Musa, abdi Allah. Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.
Ada sebuah cara berpikir yang tanpa sadar sering kita warisi ketika mendengar frasa “First Things First.” Kita membayangkan sebuah daftar.
Misal Tuhan nomor satu. Keluarga nomor dua. Karier nomor tiga. Pelayanan mungkin nomor empat. Lalu kita berusaha keras menjaga urutan itu agar tidak tertukar.
Masalahnya bukan pada niatnya. Niatnya baik. Kita ingin Tuhan menjadi yang utama. Tetapi tanpa sadar, daftar itu menciptakan pola pikir transaksional.
Setelah doa pagi selesai, setelah ibadah Minggu dilakukan, setelah pelayanan dibereskan, kita merasa sudah “menyelesaikan” nomor satu. Lalu kita beralih ke nomor dua. Seakan-akan Tuhan adalah satu tugas yang harus dicentang sebelum kita masuk ke urusan hidup yang “sebenarnya.”
Padahal hidup tidak berjalan seperti daftar. Terutama bagi keluarga-keluarga muda yang sedang berada di musim paling sibuk. Anak bangun sebelum alarm berbunyi. Balita tantrum di saat yang tidak tepat. Deadline kantor bertabrakan dengan jadwal sekolah. Tubuh lelah, pikiran penuh, hati kadang kewalahan.
Dalam kondisi seperti itu, konsep daftar prioritas yang kaku sering berubah menjadi sumber rasa bersalah. “Saya belum saat teduh.” “Saya tidak sempat doa panjang.” “Hari ini Tuhan tidak jadi nomor satu.”
Bagaimana jika kita mengubah paradigmanya. Bukan Tuhan sebagai angka satu, tetapi Tuhan sebagai nol.
Dalam sistem bilangan, nol terlihat seperti tidak berarti. Ia tidak bersuara. Ia tidak menonjol. Tetapi tanpa nol, sistem bilangan modern runtuh. Tidak ada puluhan, tidak ada ratusan, tidak ada nilai tempat. Nol bukan sekadar angka. Ia adalah fondasi struktur.
Ketika kita memandang Tuhan sebagai “Nol”, kita sedang berkata bahwa Dia bukan pesaing dalam daftar prioritas. Dia adalah awalan bagi semuanya. Dia bukan satu di antara banyak angka. Dia adalah yang mendahului, yang membingkai, yang memberi nilai pada setiap angka setelahnya.
Bayangkan pola 01, 02, 03.
Di sinilah konsep ini menjadi membebaskan. “First Things First” bukan berarti kita harus selalu berhasil menempatkan Tuhan di slot pertama setiap hari. Itu berarti kita menyadari bahwa sebelum kita memulai apa pun, Dia sudah lebih dulu hadir.
Sebelum angka satu muncul, nol sudah ada.
Sebelum kita berhasil atau gagal, Dia tetap setia.
Nol juga berbicara tentang kerendahan hati. Ia mengingatkan bahwa tanpa Tuhan, kita kembali pada ketiadaan. Semua pencapaian, semua gelar, semua kesibukan, tidak memiliki makna kekal tanpa Dia. Tetapi nol juga berbicara tentang potensi. Dari nol, angka-angka mulai tersusun. Dari kesadaran akan ketergantungan kepada Tuhan, kehidupan yang bermakna mulai terbentuk.
Bagi keluarga muda yang sering merasa tidak teratur, konsep ini seperti napas segar. Jika semalam Anda begadang karena anak demam dan pagi ini tidak sempat doa seperti biasanya, Tuhan tidak tersingkir dari hari Anda. Dia ada di kursi samping tempat tidur. Dia ada dalam pelukan Anda kepada anak yang rewel. Dia ada dalam keputusan Anda tetap lembut meski tubuh lelah.
Tuhan sebagai Nol berarti kita hidup terintegrasi.
Tidak ada ruang yang sekuler dan ruang yang sakral. Tidak ada jam Tuhan dan jam pribadi. Semua adalah satu kesatuan dalam kehadiran-Nya.
Mendahulukan yang utama bukanlah soal urutan waktu semata. Itu soal kesadaran hati. Kesadaran bahwa setiap angka dalam hidup kita mendapatkan nilainya karena Dia berdiri di sana.
Dan ketika kita hidup dengan kesadaran itu, rasa bersalah perlahan digantikan oleh syukur. Tekanan digantikan oleh ketenangan. Kita tidak lagi berusaha menjangkau Tuhan lewat performa. Kita berjalan bersama Dia yang sudah lebih dulu menjangkau kita.
Itulah “First Things First” yang sejati. Bukan Tuhan sebagai tugas pertama yang harus diselesaikan, tetapi Tuhan sebagai fondasi yang selalu hadir, mendahului, menyertai, dan memberi makna pada seluruh hidup kita.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar